Kebutuhan dan Tugas Perkembangan Peserta Didik

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kebutuhan Peserta Didik

1. Konsep Kebutuhan Peserta didik
Dalam mebicarakan konsep kebutuhan, tidak akan terlepas dari konsep motivasi, konsep dorongan, konsep perilaku, serta tujuan. Seseorang yang berbuat atau melakukan sesuatu, setidaknya karena ada kebutuhan yang hendak dicapai. Misalnya : seorang pelajar yang memiliki kebutuhan untuk dihargai dan diakui oleh teman-teman sekelasnya, ia akan melakukan berbagai upaya untuk mencapainya. Yaitu ia mengambil suatu keputusan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan merebut kejuaraan kelas dalam ulangan semester dengan tujuan agar teman-teman sekelasnya member penghargaan dan pengakuan.
Kebutuhan dapat dipandang sebagai suatu aturan yang objektif yang terdapat dalam diri individu yang apabila dipenuhi akan menyebabkan tercapainya suatu kepuasan dan adanya penyesuaian antara individu dengan lingkungannya.
Secara garis besar kebutuhan dapat dibedakan atas beberapa golongan yaitu :
a. Kebutuhan Fisiologis
Setiap orang mengetahui bahwa untuk mencapai integritas dan kesehatan fisik, maka organism memerlukan udara, makanan, cairan, istirahat, tempat bernaung, pengeluaran sisa pembakaran, dan sebagainya. Pemusatan kebutuhan-kebutuhan fisiologis hanya menjamin penyesuaian organism fisik. Sekalipun demikian ada hubungan yang sangat erat antara pemusan kebutuhan fisik dan pencapaian penyesuaian psikologis.
b. Kebutuhan Psikologis
Manusia terdiri atas aspek psikologis dan aspek fisik, karena itu tingkah laku dan kehidupan mentalnya didominasi oleh sejumlah keperluan psikologis yang pemuasannya bersifat fundamental untuk penyesuaian. Ada beberapa kebutuhan psikologis yang penting untuk penyesuaian, yaitu :
1. Kebutuhan akan Kasih Sayang dan Penghargaan Sosial
Anak manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan alamiah sekitarnya. Akibat ketidakmampuan itu, tumbuhlah anak dalam ketergantungan kepada orang lain sehingga lahirlah kebutuhan akan teman. Kebutuhan ini akan terpenuhi dalam hubungannya dengan orang tua, anggota keluarga, dan lain-lain. Akibat hubungan tersebut anak menuntut kasih saying dan penghargaan. Namun apabila kebutuhan tersebut dilumpuhkan dengan penilakan, kebencian, dan sebagainya anak akan merasa tidak dikehendaki kehadirannya, dan ia akan merasa tidak aman, takut, dan merasa tidak ada orang yang membantunya untuk menghadapi realitas. Dan anak akan menampakkan adanya kebencian, permusuhan, kecemasan, atau agresivitas. Akan tetapi, anak yang merasa aman dengan kasih saying serta dihargai akan menampakkan watak yang bahagia, perilaku kasih sayang, dan hubungan yang sehat dengan orang lain di lingkungannya.
2. Kebutuhan Akan Rasa Aman dan Status
Apabila kebutuhan akan kasih sayang dan dihargai anak terpenuhi, maka anak akan merasa bahagia dan kebutuhan akan rasa amannya juga terpenuhi. Perasaan aman ini merupakan pondasi dalam penyesuaian diri terutama sebagai alat psikologis dalam menghadapi tuntutan dan kesulitan-kesulitan yang timbul dalam kehidupan. Sikap yang baik dari orang tua, pengalaman yang sehat dan berharga, kesempatan memperoleh prestasi dan pengakuan dapat membentuk keyakinan akan harga diri. Dan tanpa faktor-faktor tersebut rasa aman dan status tidak dapat berkembang sehingga tingkah laku dan stabilitas mental akan terganggu.
3. Kebutuhan akan Perhatian
Apabila anak tidak mendapat kasih sayang dan rasa aman, anak akan berperilaku untuk menarik perhatian. Karena setiap anakingin diperhatikan, karena dengan diperhatikan anak akan merasa aman dan bahagia.
4. Kebutuhan akan Kebebasan
Ketika anak keluar dari batas lingkaran keluarga yang sempit untuk membangun hubungan dengan teman-teman sebaya, ia telah memulai perjuangan untuk memperoleh kebebasan. Namun, jika seorang anak mengalami perlindungan yang terlalu ketat atau disiplin yang keras, kebutuhan akan kebebasan akan mengarah pada konflik, kebingungan, kebencian, dan sebagainya. Dan ikatan emosional yang sangat erat dengan orang tua dapat menghambat perkembangan rasa kebebasan secara normal, sehingga pada saat dewasa akan menggantungkan diri pada orang lain, tidak matang dan kurang mampu mengadakan penyesuaian diri.
5. Kebutuhan akan Prestasi
Setiaap anak pastilah ingin memperoleh prestasi yang tinggi, karena semakin tinggi tingkat prestasi seseorang maka semakin besar harga dirinya. Dan pemenuhan kebutuhan akan prestasi akan menimbulkan rasa percaya diri, keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya akan kepuasan yang telah ia capai. Namun, apabila kurangnya perhatian terhadap prestasi yang telah dicapa seseorang atau perasaan gagal yang dialami seseorang sedangkan ia telah berusaha sekuatnya namun, hasilnya tidak sesuai dengan yang dikehendaki. Hal itu, dapat menimbulkan perasaan kurang harga diri.
6. Kebutuhan akan Pengalaman
Sejak lahir, manusia menerima pengalaman, selain itu manusia juga secara aktif mencari pengalaman-pengalaman baru untuk kepentingan hidupnya. Pengalaman baru sangat didambakan oleh anak-anak muda sebagai sesuatu yang menarik, bahkan memberikan kehidupan yang dinamis. Namun, apabila anak mendapatkan hambatan dari orag tua, maka akan berkembang perilaku-perilaku yang salah. Contohnya melakukan pengalaman yang tidak sehat,kecanduan minuman keras, dan lain sebagainya. Oleh karena itu kebutuhan akan pengalaman harus disalurkan dengan cermat. Dalam hal ini pendidikan hendaknya memberikan kesempatan yang banyak dan beragam untuk ekspresi dorongan ini dengan cara normal. Sehingga pemenuhan kebutuhan ini akan membantu perkembangan pribadi dan tingkah laku yang wajar dalam kehidupan individu.

c. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan social merupakan faktor dinamis yang memberikan pengaruh langsung pada penyesuaian diri dengan lingkungan atau hubungan social antar pribadi. Adapun kebuuhan social yang penting dalam kehidupan individu, adalah :
1. Kebutuhan akan Partisipasi
Untuk memperoleh rasa diakui dan dihargai oleh orang lain atau lingkungan masyarakat tempat ia berada, maka individu berbuat sesuatu atau mengambil bagian dalam kegiatan yang ada. Ada hubungan antara kebutuhan yang satu dengan kebutuhan yang lain yang diperankan dalam satu kegiatan yang sama. Individu yang mengalami kesulitan dalam kegiatan pengalaman social melalui partisipasi, memiliki ruang gerak sempit, kurang teman bergaul, cenderung kea rah kegiatan menyendiri yang abnormal, kadang kala menunjukkan sikap antisocial.
2. Kebutuhan akan Pengakuan
Setiap individu yang hidup dalam masyarakat ingin diakui sebagai salah satu diantara mereka. Pengakuan dari masyarakat berpangkal pada kadaan individu tersebut, misalnya pribadinya, kemampuan yang dimiliki, prestasi, dan kualitas personal individu tersebut. Kebutuhan akan pengakuan yang terpenuhi atau mendapat respon memberikan pengaruh yang definitive menyehatkan kepada cara penyesuaian diri.
3. Kebutuhan akan Penyesuaian
Unsur-unsur yang diterima masyarakat cenderung menunjukkan adanya persamaan atau persesuaian. Kebutuhan akan persamaan yang mendapat pemenuhan secara baik akan memudahkan individu mengadakan hubungan social atau interaksi yang luwes dan lancer. Namun, apabila kebutuhan akan penyesuaian peserta didik kurang terpenuhi atau orang tua memberikan pembatasan, anak akan cenderung menunjukkan sikap berontak, permusuhan, menarik diri, kesedihan emosi, dan sebagainya.

2. Jenis-jenis kebutuhan dan Pemenuhannya
a. Teori kebutuhan individu pada umumnya
Teori tingkat kebutuhan dari Maslow (Maslow’s need hierarchy)
Inti dari teori Maslow adalah bahwa kebutuhan itu tersusun dalam suatu hirarki.

Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kebutuhan Fisiologis
Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan yang bersifat fisiologik (kebutuhan akan udara, makanan, minuman dan sebagainya) yang ditandai oleh kekurangan (defisi) sesuatu dalam tubuh orang yang bersangkutan. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat estrim (misalnya kelaparan) bisa manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu. Sebaliknya, jika kebutuhan dasar ini relatif sudah tercukupi, muncullah kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety needs).
2. Kebutuhan Rasa Aman
Jenis kebutuhan yang kedua ini berhubungan dengan jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang bisa diperkirakan, bebas dari rasa takut dan cemas dan sebagainya. Karena adanya kebutuhan inilah maka manusia membuat peraturan, undang-undang, mengembangkan kepercayaan, membuat sistem, asuransi, pensiun dan sebagainya. Sama halnya dengan basic needs, kalau safety needs ini terlalu lama dan terlalu banyak tidak terpenuhi, maka pandangan seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada gilirannya pun perilakunya akan cenderung ke arah yang makin negatif.
3. Kebutuhan Dicintai dan Disayangi
Setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif dipenuhi, maka timbul kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai (belongingness and love needs). Setiap orang ingin mempunyai hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain. Ia ingin mencintai dan dicintai. Setiap orang ingin setia kawan dan butuh kesetiakawanan. Setiap orang pun ingin mempunyai kelompoknya sendiri, ingin punya “akar” dalam masyarakat. Setiap orang butuh menjadi bagian dalam sebuah keluarga, sebuah kampung, suatu marga, dll. Setiap orang yang tidak mempunyai keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan orang yang tidak sekolah dan tidak bekerja merasa dirinya pengangguran yang tidak berharga. Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan.
4. Kebutuhan Harga Diri
Di sisi lain, jika kebutuhan tingkat tiga relatif sudah terpenuhi, maka timbul kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Ada dua macam kebutuhan akan harga diri. Pertama, adalah kebutuhan-kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian. Sedangkan yang kedua adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain. Orang-orang yang terpenuhi kebutuhannya akan harga diri akan tampil sebagai orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap untuk berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang terdapat 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hirarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.
b. Teori kebutuhan yang dipelajari dari McClelland
Inti dari teori ini terletak pada pendapat yang mengatakan bahwa pemahaman tentag motivasi akan semakin mendalam apabila disadari bahwa setiap individu mempunyai tiga jenis kebutuhan, yaitu :
1. need for achievement (n Ach)
Setiap orang tentu ingin dipandang sebagai orang yang berhasil dalam hidupnyaterlebih-lebih peserta didik, dan sebaliknya tidak ada orang yang senang menghadapi kegagalan dalam hidupnya. Mc Clelland melalui peneletiannya telah menemukan bahwa orang yang mempunyai n Ach tinggi :
a. lebih senang menetapkan sendiri tujuan hasil karyanya,
b. lebih senang menghindari tujuan hasil karya yang mudah dan sukar,
c. lebih menyenangi umpan balik yang cepat tampak dan efisien,
d. senang bertanggungjawab akan pemecahan persoalan.

2. need for power (n Pow)
Dikatakannya bahwa seseorang yang n Pownya besar menyukai kondisi kompetensi, orientasi status, dan lebih memberikan perhatian pada hal-hal yang memungkinkannya memperbesar pengaruhnya kepada orang lain. Kebutuhan akan kekuasaan menampakkan diri pada keinginan untuk mempunyai pengaruh terhadap orang lain.

3. need for affiliation (n Aff).
Kebutuhan affiliasi merupakan kebutuhan riil dari setiap manusia terlepas dari kedudukan, jabatan, maupun pekerjaannya. Kebutuhan ini pada umumnya tercermin pada keinginan berada pada situasi yang bersahabat dalam interaksi seorang dengan orang lain.

c. Kebutuhan peserta didik dalam perkembangannya
Garrison, mencatat tujuh kebutuhan khas peserta didik, yaitu :
1. Kebutuhan akan kasih sayang
2. Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok
3. Kebutuhan untuk berdiri sendiri
4. Kebutuhan untuk berprestasi
5. Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain
6. Kebutuhan untuk dihargai
7. Kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh
Perlu dicatat bahwa kebutuhan-kebutuhan diatas tidak berlaku bagi seluruh peserta didik. Dan lain halnya dengan pandangan social psikologis dalam memandang kebutuhan peserta didik. Pandangan ini mengaitkan dengan pemuasan kebutuhan peserta didik dalam kelompoknya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah :
a. Kebutuhan untuk menerima afeksi dari kelompok atau individu, antara lain :
(1) Menerima kasih sayang dari keluarga dan atau orang lain di luar kehidupan keluarga.
(2) Menerima pemujaan atau sambutan hangat dari teman-temannya.
(3) Menerima penghargaan dan apresiasi dari guru dan pendidik-pendidik lainnya.
b. Kebutuhan untuk memberikan sumbangan kepada kelompoknya, antara lain :
(1) Menyatakan afeksi kepada kelompoknya.
(2) Turut serta memikul tanggung jawab kelompok.
(3) Menyatukan kesediaan dan kesetiaan kepada kelompok.
(4) Mengahayati sukses-sukses dalam kelompok.
c. Kebutuhan untuk memahami.
d. Kebutuhan untuk mempelajari dan menyelidiki sesuatu ( Melly Sri Sulastri Rifai, 1984 :22-24).

d. Konsekuensi Kebutuhan Peserta Didik yang Tidak Terpenuhi dan Masalah yang Ditimbulkan

Pada dasarnya semua peserta didik menghendaki semua kebutuhan-kebutuhannya dapat terpenuhi secara wajar baik kebutuhan biologis, kebutuhan psikologis, dan kebutuhan sosiologis. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut secara memadai akan mrndatangkan keseimbangan dan keutuhan integritas pribadi. Dengan kata lain, semua peserta didik yang kebutuhannya terpenuhi secara memadai akan memperoleh suatu kepuasan hidup. Dalam garis besarnya tingkatan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan peserta didik, adalah :
1. Tingkah Laku / Bertindak dengan Cara Refleks
Reflex merupakan suatu cara pemenuhan kebutuhan yang paling sedrhana, secara otomatis, dan instinktif. Misalnya bernafas untuk memenuhi kebutuhan udara, dll. Cara ini bersifat herediter yang paling dasar.
2. Tingkah Laku / Bertindak dengan Cara Kebiasaan
Apabila kebutuhan individu tidak dapat terpenuhi dengan cara tingkah laku reflex, maka ia akan memenuhi dengan cara habitual atau kebiasaan yaitu tingkah laku yang sudah relative tetap dan seragam pada setiap individu. Misalnya makan, mandi, memakai baju, dan sebagainya.
3. Tingkah Laku / Bertindak dengan Cara Rasional dan Emosional (Belajar)
Hal ini dilakukan apabila individu tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara refleks atau habitual. Misalnya kebutuhan untuk mengembangkan diri, dan sebagainya.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan fisiologis, manusia tidak cukup hanya melalui kebiasaan saj, tetapi harus juga dengan belajar disesuaikan dengan perubahan-perubahan lingkungan dan alam yang telah terjadi. Kebutuhan-kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow dapat ditingkatkan melalui belajar. Kebutuhan dapat terpenuhi dengan cara belajar terus-menerus melalui sejumlah sarana dan prasarana. Apabila kebutuhan-kebutuhan tesebut tidak juga terpenuhi melalui belajar, maka konsekuensinya atau akibatnya adalah timbulnya frustasi. Dimana keadaan batin individu yang tidak dapat terpuaskan karena adanya suatu rintangan dan individu tersebut merasa sangat kecewa.

e. Usaha-usaha pemenuhan kebutuhan peserta didik dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan
Pada prinsipnya setiap tingkah laku adalah merupakan relisasi dari usaha pemenuhan suatu kebutuhan. Bagi peserta didik kalau ditinjau dari segi terhadap siapa tuntutan pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Kebutuhan yang menuntut pemenuhannya dari kelompok teman sebaya(peer-group)
Seperti kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya dan kebutuhan menghindari penolakan dari teman sebaya, dalam hal ini peer-gruop lah yang menjadi tumpuan untuk merealisasikan semua kebutuhan peserta didik.
2. Kebutuhan yang menuntut pemenuhannya dari orang tua/pendidik
Contohnya
a. pengakuan sebagai orang yang mampu untuk menjadi dewasa
b. perhatian
c. kasih sayang
Implikasi dalam penyelenggaraan pendidikan:
a. Dalam penyelenggaraan pendidika perlu ditumbuh kembangkan suasana yang mndukung untuk dapat terpenuhinya kebutuhan peserta didik melalui peer-group
b. Terselenggarakannya kegiatan ekstrakulikuler yang terkoordinir dengan baik
c. Kegiatan-kegiatan pendidikan akan lebih berguna dan berhasil apabila sejalan dengan kebutuhan peserta didik
d. Perlunya kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua untuk memahami kebutuhan peserta didik

B. Tugas-tugas Perkembangan
1. Konsep tugas perkembangan
Perjalanan kehidupan seseorang itu dari lahir sampai mati dan pada umumnya akan melewati beberapa fase baik pertumbuhan atau perkembangan, yaitu: fase bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan tua.tiap pertumbuhan atau perkembangan tersebut memiliki ciri-ciri khusus yang secara relatif antara satu individu dengan yang lain hampir sama.keberhasilan dalam mencapai tugas perkembangan pada suatu fase akan membawa konsekuensi kebahagiaan serta akan memperlancar tugas perkembangan pada fase berikutnya, dan sebaliknya jika pada suatu fase mengalami kegagalan maka akan mengganggu proses perkembangan pada fase berikutnya. Menurut Havighhuerst (1961)menyatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dikehidupan individu,yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan di fase berikutnya dan bila gagal akan menghambat tugas-tugas berikutnya.kegagalan dalam mencapai tugas tersebut akan berakibat baik secara parsial maupun total pada tugas-tugas selanjutnya. Contoh tentang tugas belajar bicara merupakan tugas perkembangan masa bayi. pada usia 1-2 tahun anak pada umumnya sudah mulai belajar biacara,dari beberapa kasus yang kita hadapi diketahui bahwa anak-anak yang ditolak dalam kebersamaan pergaulan selama tahun pertama adalah karena anak tersebut tidak bisa belajar berbicara,dimana tugas belajar bicara ini dirasakan sangat sulit,dan mungkin tidak akan prnah dilaksanakan dengan baik mana kala tidak dicapai pada tahun kedua, manakala tugas belajar berbicara ini tidak terlaksana kegagalan membayang untuk deretan tugas-tugas berikutnya yang sangat tergantung pada kemampuan berbahasa. Terjadinya hambatan yang mengahalangi penguasaan suatu tugas dapat dianggap suatu bahaya potensial. Menurut havighurst ada tiga macam bahaya potensial yang berhubungan dengan tugas-tugas dalam perkembangan:
1. Harapan yang kurang tepat baik individu sendiri maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku yang tidak mungkin dalam perkembangan saat itu karena keterbatasan fisik atau psikisnya
2. Melangkahi tahap tertentu dalam prkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
3. Adanya krisis yang di alami individu ketika melewati satu tingkatan ketingkatan lain.
Kegagalan dan atau hambatan sebaiknya diatasi sedini mungkin agar supaya dampak dampak yang memungkinkan muncul dapat ditekan sekecil mungkin sehingga kesukaran dalam pencapaian tugas perkembangan berikutnya dapat dikurangi.
Kegagalan dalam menguasai tugas perkembangan pada fase tertentu mengandung beberapa konskuensi, antara lain:
a. Pertimbangan sosial yang kurang menyenangkan yang tidak dapat dihindari
b. Konskunsi yang tidak ada dasar untuk penguasaan tugas berikutnya, dimana individu ini cenderung akan tertingal terus dari kelompok sebayanya.

2. Jenis tugas-tugas perkembangan peserta didik
Menurut Havighurst tugas-tugas perkembangan tersebut antara lain:
a. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita. Mencakup tiga bagian :
1. Hakikat tugas
Dimana anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, yang akan menjadi dewasa diantara orang-orang dewasa,belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
2. Dasar biologis
Secara biologis manusia terbagi atas dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan,dimana hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan fisik yang telah dicapai.
3. Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis anak didik belajar bertingkah laku sbagai orang dewasa sedang dalam jenis kelamin lainpeserta didik belajar menguasai ketrampilan sosial, dimana pada umumnya peserta didik putri lebih matang dari pada peserta didik putra, dan cenderung lebih tertarik kepada peserta didik yang usianya beberapa tahun lebih tua.
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita
1. Hakikat tugas
Mempelajari peran sosial sebagai pria tau wanita.
2. Dasar biologis
Ditinjau dari kekuatan secara fisik wanita menjadi orang yang lebih lemah dari pada pria.
3. Dasar psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, namun untuk gadis ia cenderung lebih mengutamakan karir dan ingin bebas dari peranan sosialnya menjadi seorang istri atau ibu.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secra efektif
1. Hakikat tugas
Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan tubuh sendiri serta menjaga, melindungi dan menggunakan secara efektif.
2. Dasar biologis
Perkembangan peserta didik disertai dengan pertumbuhan fisik, dimana pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat dibanding pemuda.
3. Dasar psikologis
Peserta didik suka memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya, seperti anak gadis lebih suka bedandan untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudan mulai menstruasi.
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
1. Hakikat tugas
Tugas ini bertujuan untuk membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri kepada orang tua, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa.
2. Dasar biologis
Individu yang tidak memperoleh kepuasan dari keluarganya, ia akan kluar untuk membangun ikatan emosional dengan orang-orang yang seumur.
3. Dasar psikologis
Pada masa ini peserta didik menglami sikap ambivalen terhadap orant tuanya dimana peserta didik ingin bebas namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya,dalam keadaan ini peserta didik masih mengharapkan perlindungan orang tua.
e. Mencapai jaminan kebebasan ekonomis
1. Hakikat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri
2. Dasar biologis
Tak ada dasar biologis yang berarti untuk melaksanakan tugas ini meskipun kekuatan dan ketrampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencpai tugas ini
3. Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri
f. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
1. Hakikat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaaan ini.
2. Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memilki dan menyiapkan diri memperoleh suatu lapangan pekerjaan.
3. Dasar pskikologis
Dari hasil penelitian minat dikalangan peserta didik ternyata pada oeserta didik yang berusia 16-19 tahun, minat utama yang tertuju adalah kepada pmilihan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
g. Persiapan untuk memasuki pekerjaan dan kehidupan berkeluarga
1. Hakikat tugas
Ini adalah mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga dan mempunyai anak, khusus anak gadis akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang penting bagi pengelolaan rumah dan pngurusan anak.
2. Dasar biologis
hasil kematangan seks yang normal akan menjadi dasar ketertarikan dalam perkawinan.
3. Dasar psikologis
Sikap peserta didik terhadap perkawinan sebagian besar ada yang menunjukkan rasa takut namun ada pula yang menunjukkan rasa kebahagiaan dalam hidup, sikap ini mungkin dipengaruhi oleh suasana kehidupan atau pengalaman rumah.
h. Mengembangkan ketrampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi kewarganegaraan
1. Hakikat tugas
Ini adalah mengembangkan konsep tenyang hukum politik konomi dan kemasyarakatan yang penting untuk kehidupan masyarakat.
2. Dasar biologis
Sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan pada usia 14 tahun.
3. Dasar psikologis
Sebagai hasil dari kombinasi perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir dan perbedaan pengalaman, adolesen menunjukkan kemampuan kejiwaan yang cukup besar, perbedaan individu dalam perkembanga kejiwaan ini secara prinsipil erat hubungannya dengan perbdaan dalam penguasaan bahasa / makna sesuatu, perolehan konsep-konsep,minat dan motivasi.
i. Mencapai dan mengaharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
1. Hakikat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat, dan menghitungkan nila-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.
2. Dasar biologis
Tidak ada tugas yang berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu.
3. Dasar psikologis
Proses untuk mengikat individu kepada kelompok sosialnya berlangsung sejak orang dilahirkan.sejak kecil anak diminta untuk mengorbankan kebahagaiaannya demi kebahagiaan kelompok beerpartisipasi belajar bagaimana caranya mau memberi ganjaran.
j. Memperoleh suatu himpunan niali-nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah laku
1. Hakikat tugas
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai yang realisasinya memeungkinkan mengembangkan nilai-nilai,gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan yang lain.
2. Dasar psikologis
fakta hasil observasi menunjukkan bahwa banyak anak muda yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama. Hal ini diperoleh si peserta didik melalui identifikasi dan imitasi pribadi ataupun penalaran analisis nilai-nilai.

3. Tugas perkembangan peserta didik berkenaan dengan kehidupan berkeluarga
Meskipun tidak bisa bisa diadakan pembagian secara eksak mengenai fase remaja, tapi berdasarkan titik berat yang akan diberikan maka masa remaja terbagi menjadi dua fase, yaitu fase pubertas dan adolesensi, dimana fase pertama lebih menitik beratkan perkembangan fisik dan dan seksual serta akibatnya terhadap spiko-sosial sedangkan fase kedua lebih menitikkan tentang aspek-aspek moral pandangan hidup dan hubungannya dengan masyarakat. Oleh karena itu tugas dari perkembangan peserta didik yang berhubungan dengan keluaraga dibicarakan pada fase kedua, dimana tugas perkembangannya berkaitan dengan pekerjaan dan hidup keluarga memang merupakan tugas yang sangat penting dan sangat sulit diatasi, hal ini cukup beralasan karena selama tahun pertama dan kedua dalam perkawinan pasangan muda harus melakukan penyesuaian utama satu sama lain selain tiu ketegangan emosi juga masih sering timbul, dari sekian banyak masalah penyesuaian dalam kehidupan berkeluarga ada empat pokok yang paling umum dan paling penting yaitu:
1. Penyesuaian dengan pasangan
Faktor yang mempengaruhi antara lain :
Konsep pasangan yang ideal, pemenuhan kebutuhan , kesamaan latar belakang minat dan kepentingan bersama, kepuasan nilai, konsep peran, perubahan dalam pola hidup
2. Penyesuaian seksual,
Faktor yang mempengaruhi antara lain:
Perilaku terhadap seks, pengalaman seks masa lalu, dorongan seks, sikap terhadap penggunaan alat kontrasepsi
3. Penyesuaian keuangan,
4. Penyesuaian dengan pihak keluarga masing-masing.
Faktor yang mempengaruhi antara lain:
Keinginan untuk mandiri, mobilitas sosial, anggota keluarga berusia lanjut, bantuan keuangan untuk pihak keluarga pasangan.

Kriteria keberhasilan penyesuaian berkeluarga :
a. Adanya kebahagiaan antar pasangan
b. Adanya hubungan baik antara anak dengan orang tua
c. Adanya penyesuaian yang baik dari anak
d. Kemampuan mmperoleh kepuasan perbedaan pendapat
e. Adanya kebersamaan
f. Adanya penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan
g. Adanya penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan

C. Implikasi tugas-tugas perkembangan peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan

1. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan non akademik melalui sebuah perkumpulan contoh perkumpulan seni.
2. Bila terjadi seorang pria atau wanita yang bertingkah laku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya maka ia perlu dibimbing melalui bimbingan dan konseling, demikian juga misal seorang wanita yang lebih mementingkan karir hendaknya sekolah turut membantunya agar mereka mampu menerima peranannya sebgai wanita.
3. Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba dalam kegiatan kelompoknya sendiri.
4. Pemberian bantuan kpada siswa untuk memilih lapangan pekerkaaj yang diminatinya, sesuai dengan siste kemasyarakatan yang dianutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Drs.Soeparwoto,dkk.2007.Psikologi Perkembangan.Semarang:UPT MKK SEMARANG.

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s